Angkutan Umum VS Angkutan Online di Indonesia

Angkutan Umum VS Angkutan Online di Indonesia

410
BERBAGI
Kontroversi Angkutan Umum VS Angkutan Online

KotakNews – Angkutan Umum VS Angkutan Online di Indonesia, Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat modern saat ini semakin kreatif mengubah permasalahan menjadi inovasi teknologi yang canggih. Kemajuan tersebut semestinya disambut hangat oleh masyarakat sebagai alat yang bisa mempermudah kehidupan sehari-hari. Namun sebuah inovasi dan kemajuan teknologi tetap akan menemui banyak kendala ketika berhadapan dengan kompleksnya masyarakat. Seperti beberapa peristiwa kontroversial yang terjadi terkait angkutan umum konvensional dengan angkutan online beberapa tahun terakhir ini. Kasus pengeroyokan bahkan tindakan anarkis terjadi diantara kedua belah pihak. Tapi jika diteliti lebih dalam, sebenarnya dimana sumber semua masalah ini berasal?

 

Angkutan umum versus angkutan online

 

Sejak tahun 2015 lalu, angkutan online mulai mendapat perhatian dari masyarakat Indonesia. Berawal dari kota Jakarta, kemudian menyebar ke beberapa kota besar lainnya, jasa angkutan online pun menjadi primadona. Bagaimana tidak? Dari segi waktu, dibandingkan dengan angkutan umum konvensional, angkutan online tentu lebih cepat. Karena pengguna hanya perlu memesan jasa angkutan melalui aplikasi ponselnya. Tanpa menunggu lama, tarif yang tidak menentu, atau trayek, pengguna bisa sampai ke tempat tujuannya lebih tepat waktu. Kepuasan itulah yang menjadikan masyarakat Indonesia mulai beralih dari angkutan umum ke angkutan online.

 

Akan tetapi seperti yang kita ketahui, transportasi publik di Indonesia yang lebih dahulu ada adalah angkutan umum atau yang biasa dikenal dengan angkot. Angkutan yang satu ini menjadi salah satu alat transportasi berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Entah itu pelajar, pekerja, maupun buruh mengandalkannya. Sehingga sejak tahun 1960-an, banyak pengusaha yang mengubah mobil mereka untuk dijadikan angkot sekaligus sumber mata pencaharian banyak orang.

Simak Juga :  Info FOSSASIA Summit 2017

 

Dalam rentang waktu yang tidak singkat itu, keberadaan angkutan online tentu menjadi ancaman besar bagi para supir angkot. Penumpang yang biasanya menunggu kedatangan angkot di halte atau terminal berkurang drastis, penghasilan perhari sebelumnya mencapai lebih dari seratus ribu rupiah kini bahkan tidak sampai setengahnya.

 

Lalu dimana letak permasalahannya, angkutan umum konvensional atau angkutan online?

 

Mari berpikir logis!  Jika di zaman yang serba digital ini masyarakat modern butuh yang serba praktis, maka mana yang akan mereka pilih? Tentu jawabannya adalah angkutan online. Tapi coba lihat, berapa banyak pengangguran yang ditimbulkan jika seluruh warga Indonesia memilih angkutan online daripada angkutan umum? Sudah pasti bukan jumlah yang sedikit. Bahkan efek terburuknya, catatan kemiskinan Indonesia akan semakin bertambah panjang.

 

Jadi intinya, kembali buka mata ke zaman digital. Permintaan pasar akan kemajuan teknologi sudah tidak lagi bisa dihindari. Kasarnya, bisa atau tidak bisa, angkutan umum harus mulai mendigitalisasi sistem pemasarannya. Sudah waktunya angkutan umum menjemput bola, bukan lagi ngetem layaknya perangkap menunggu tikus, tapi seharusnya secara perlahan mengaplikasikan strategi teknologi angkutan online pada angkot. Juga bagaimana caranya berusaha mengubah mental konvensional menjadi mental digital. Tidak menutup kemungkinan angkot akan bertransformasi menjadi angkutan yang kekinian dan menarik kembali minat penumpangnya.

 

Memang beradaptasi dengan perubahan tidaklah mudah, akan tetapi jika kita tidak mencoba membiasakan diri pasti kita akan segera tergerus oleh zaman.