Suka Mengeluh di Media Sosial? Suka Update Status? Mungkin inilah Penyebabnya

Suka Mengeluh di Media Sosial? Suka Update Status? Mungkin inilah Penyebabnya

282
BERBAGI
Suka Mengeluh di Media Sosial? Suka Update Status? Mungkin inilah Penyebabnya

KotakNews.com – Suka Mengeluh di Media Sosial? Suka Update Status? Mungkin inilah Penyebabnya, Media sosial sekarang sedang marak digandrungi berbagai kalangan. Tak hanya para remaja, para kaum tua pun juga tak ingin kalah dalam berlomba – lomba mengakses hasil temuan tercanggih tersebut. Nampaknya, hal ini telah menjadi sebuah kebutuhan dimana setiap orang tidak akan bisa hidup tanpa adanya media sosial. Karena setiap hal yang terjadi dan komunikasi yang kita jalin bisa lebih mudah kita lakukan dengan adanya media sosial. Akan tetapi fungsi dari media sosial sebagai media komunikasi semakin pudar seiring perubahan zaman. Saat ini media sosial menjadi salah satu ajang untuk mengekspresikan perasaan, pamer dan bahkan menjadi alat untuk mengumbar urusan pribadi yang tidak seharusnya diperlihatkan.

Jika anda ketahui, mengeluh dan mengupdate status di media sosial terus-menerus menunjukkan bahwa anda mengidap gangguan. Psikolog Universitas Tarumanegara, Untung Subroto Dharmawan, mengatakan gangguan dengan tipikal seperti itu disebut factitious disorder (gangguan buatan) by internet. “Mereka adalah orang-orang yang suka mengeluh sakit di media sosial untuk mendapatkan perhatian orang lain,” kata Untung kepada Kompas Lifestyle di SCBD, Jakarta, Senin (15/5/2017).

Lalu apa sih sebenarnya yang menyebabkan orang suka update status di media sosial? Berikut ini beberapa alasannya:

Mampu Memberikan Perasaan Menyenangkan

(Foto: ciricara.com)

Memang jika dipikir – pikir mengeluh di media sosial atau membuat rangkaian status yang panjang kali lebar bukanlah hal yang membawa manfaat. Namun ternyata hal ini memberikan kepuasan tersendiri kepada seseorang. Menurut penelitian pun menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang menceritakan tentang dirinya dapat mempengaruhi pelepasan senyawa kimia di otak yang memberikan perasaan menyenangkan. Hal ini dikenal dengan istilah Asertif yaitu menyampaikan isi perasaan yang dapat menimbulkan perasaan lebih lega atau menyenangkan.

Simak Juga :  XL Luncurkan Program Sekolah Broadband

Kebutuhan untuk didengarkan

(Foto: polka.id)

Menceritakan sesuatu kepada seseorang itu terkadang bukanlah hal yang mudah. Bahkan terkadang mereka malas mendengarkan curahan isi hati dari seseorang. Hal ini mengakibatkan seseorang lebih memilih untuk update status di media sosial dan mengeluh serta menceritakan semua ‘uneg-uneg’ nya melalui tulisan status yang panjang. Sebenarnya mereka hanya membutuhkan seseorang yang dapat meluangkan sedikit waktunya untuk mendengarkan mereka. Mereka merasa kesepian dan tidak tahu kemana lagi harus mencari solusi untuk masalah yang sedang mereka hadapi. Terkadang ungkapan “yang sabar ya?” bagi mereka itu sudah cukup mengobati kesedihan dan kegalauan mereka. Dale Carnegie, seorang penulis Amerika, dalam penelitiannya menunjukan bahwa kebutuhan manusia untuk didengarkan sertara dengan kebutuhan untuk makan, kesehatan, tempat tinggal, dan seks, seperti yang dikutip dari pijarpsikologi.org. Jadi wajar saja jika begitu banyak orang yang sering mengungkapkan perasaannya di media sosial. Akan tetapi alangkah baiknya jika kita mampu mengurangi curhatan kita di media sosial agar tidak mengganggu pengguna lainnya.

Kebutuhan untuk Dikenal

(Foto: hipwee.com)

Menurut pandangan psikologi kecenderungan ingin dikenal dan dilihat banyak orang juga menyebabkan seseorang sering update status di media sosial. Seseorang akan merasa bangga jika banyak orang yang mengenalnya. Namun saat ini para pengguna media sosial mengekspresikan dirinya secara berlebihan dan bertentangan dengan nilai moral yang dijunjung dalam masyarakat. Seperti mengumbar kemolekan tubuhnya agar mendapatkan pujian dari banyak orang. Padahal hal ini sudah jelas tidak dibenarkan. Oleh karena itu, sebaiknya kita menggunakan media sosial dengan lebih bijak.